Dari Hutan Mangrove ke Meja Makan, Perempuan Friwen Merawat Pangan dan Kehidupan
Di sebuah kampung yang dikelilingi laut, hutan tidak pernah benar-benar jauh dari dapur. Apa yang tumbuh di pesisir dapat menjadi bagian dari makanan, apa yang hidup di antara akar mangrove bisa menjadi sumber protein, dan apa yang sebelumnya hanya dianggap pohon perlahan menjadi sumber kehidupan.
Cerita itu mengemuka dalam webinar yang digelar Ecoblogger X The Asia Foundation (TAF) pada Jumat, 25 September 2026. Wawiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), berkali-kali mengungkapkan kekagumannya terhadap peran perempuan dalam pengelolaan mangrove di Kampung Friwen dan Yenbeser.
Menurut Steve, laki-laki sering kali mampu mengerjakan hal-hal dasar, tetapi perempuan punya kemampuan mengurus bagian-bagian yang lebih detail. Dalam konteks masyarakat pesisir, detail itu ternyata sangat menentukan banyak hal.
Dari mengolah bahan pangan, mengelola usaha, menerima pesanan, menjaga kawasan, hingga memikirkan bagaimana hutan tetap bisa dimanfaatkan tanpa kehilangan masa depannya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa mangrove bukan hanya benteng alami dari abrasi atau tempat hidup berbagai biota. Bagi masyarakat Raja Ampat, mangrove juga merupakan ruang hidup, sumber pangan, bahan baku lokal, dan peluang ekonomi.
Ketika Kayu Mangrove Mulai Terdesak Kebutuhan Pariwisata
Perjalanan pengelolaan mangrove oleh PKPRA di Friwen dan Yenbeser, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, justru berangkat dari persoalan yang cukup pelik.
Inisiasi masyarakat telah berkembang sejak 2018. Hal ini dilatarbelakangi keresahan terhadap hutan mangrove yang mengalami degradasi akibat pengambilan kayu untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort.
Pada tahap awal, masyarakat kemudian melakukan pemetaan partisipatif, mengidentifikasi jenis mangrove, dan mulai mendapatkan pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai bahan pangan lokal.
Kondisi Hutan Mangrove Doredor di Friwen menunjukkan betapa serius persoalan tersebut. Tutupan mangrove pada periode 2009-2019 mengalami perubahan, dengan tingkat kerusakan pada 2019 mencapai 57 persen atau sekitar 133 hektare dari total 233 hektare. Kerusakan itu dikaitkan dengan kebutuhan pasokan kayu untuk industri pariwisata di Raja Ampat.
Dari situ, muncul pertanyaan yang lebih besar, “Jika masyarakat membutuhkan manfaat ekonomi dari mangrove, apakah manfaat itu harus selalu diperoleh dengan menebang pohonnya?”
Jawaban yang sedang dicoba dibangun masyarakat Friwen dan Yenbeser adalah tidak.
Mangrove yang Masuk ke Dapur
Olahan pangan dari mangrove (Foto: PKPRA)Salah satu perubahan penting adalah cara masyarakat memandang hasil mangrove. Hutan tidak hanya menyediakan kayu, tetapi juga menyimpan bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan tanpa harus menghilangkan mangrove.
Buah mangrove menjadi salah satu contohnya. Buah Bruguiera gymnorrhiza disebut dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan substitusi karbohidrat lokal. Tepung tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai camilan dan makanan, sementara sari buahnya dapat digunakan sebagai bahan minuman tradisional.
Di Friwen, gagasan tersebut lalu berkembang menjadi produk pangan. Buah mangrove atau aibon diolah menjadi tepung dan digunakan sebagai bahan berbagai camilan serta makanan yang ditujukan untuk pasar lokal. Anggota Kelompok Usaha Pertanian Sosial (KUPS) Sinya Lep di Desa Friwen juga mendapatkan pelatihan pengolahan dan peningkatan kualitas produk, termasuk merancang kemasan dan rasa.
Dari bahan dasar itu, muncul beragam kemungkinan olahan, mulai dari tepung, mi berbahan tepung mangrove, hingga kue kering. Ada pula madu mangrove yang memanfaatkan nektar bunga mangrove sebagai sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir.
Di sinilah nilai mangrove menjadi lebih luas. Satu ekosistem dapat menghasilkan banyak bentuk manfaat, tanpa seluruh nilainya harus diambil dalam bentuk kayu.
Perempuan yang Mengurus Bagian-Bagian Detail
Perempuan Friwen (Foto: Instagram @kawanpesisirr4)Bagi masyarakat Friwen, pengolahan produk bukan satu-satunya bentuk keterlibatan perempuan.
Perempuan memiliki andil besar dalam menjaga kawasan hutan mangrove melalui skema Hutan Desa. Aktivitas mereka berkaitan dengan pangan, etnobotani, pasar tradisional, pengambilan daun untuk tikar, berkebun, hingga mencari ikan dan kerang-kerangan.
Perempuan juga terlibat dalam berbagai kelompok pengelolaan, termasuk KUPS Pengolahan Mangrove, KUPS Agroforestry, KUPS Kerajinan Tangan, Kelompok Patroli, dan Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Perlindungan Mangrove.
Produk yang dihasilkan tidak berhenti pada makanan, tetapi juga mencakup sabun mangrove, minyak kelapa, sayuran yang dijual ke homestay dan resort, hingga produk anyaman dan kerajinan tangan.
Maka, ketika Steve berbicara mengenai perempuan dan pekerjaan detail, gambaran itu terasa dekat dengan keseharian mereka. Ada pekerjaan yang mungkin tidak terlihat ketika orang berbicara tentang konservasi, tetapi justru menentukan apakah sebuah program dapat menjadi kegiatan ekonomi yang bertahan.
Menjaga hutan adalah satu pekerjaan. Memastikan hasil hutan bisa menjadi produk yang layak dijual adalah pekerjaan lain. Keduanya membutuhkan ketelitian.
Membagi Ruang agar Hutan Tidak Habis Dimanfaatkan
Pemanfaatan mangrove tentu tidak berarti semua bagian hutan dapat diambil sesuka hati.
Masyarakat Friwen lalu mendapatkan ruang kelola melalui skema Hutan Desa. Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa Kampung Friwen mencakup kawasan seluas 1.025 hektare yang diperuntukkan bagi Ruang Lindung, Ruang Pemanfaatan, dan Ruang Pemanfaatan Konservasi.
Pengelolaan ini didukung Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), empat KUPS, satu kelompok patroli, dan satu Pokja Perempuan Perlindungan Mangrove.
Pembagian ruang tersebut penting karena memberi batas antara kawasan yang harus dilindungi dan kawasan yang dapat dimanfaatkan.
PKPRA juga menekankan pentingnya pemetaan partisipatif, zona inti, zona pemanfaatan terbatas, serta alokasi ruang tertentu untuk pemanenan buah mangrove dan biota laut. Tujuannya agar aktivitas ekonomi tidak mengganggu fungsi ekologis hutan mangrove primer.
Dengan begitu, konservasi tidak berdiri berseberangan dengan ekonomi. Keduanya justru ditempatkan dalam ruang yang diatur.
Dari Produk Mangrove hingga Jasa Wisata
Pemanfaatan mangrove di Friwen tidak berhenti pada produk pangan.
PKPRA mendorong pengembangan jasa lingkungan dan ekowisata. Kegiatan wisata dikembangkan melalui jalur tracking mangrove, pengamatan burung, hingga pengalaman mengenal ekosistem pesisir.
Dengan model seperti ini, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati laut.
Mereka dapat melihat hutan yang menjadi tempat tumbuh bahan pangan, memahami bagaimana masyarakat mengolahnya, kemudian membawa pulang produk yang memiliki cerita. Mangrove akhirnya tidak hanya menjadi latar belakang pemandangan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Cara tersebut juga didukung melalui kemitraan The Asia Foundation dan PKPRA. Program Pertanian Berkelanjutan/Pengembangan Produk Lokal di Tanah Papua (PAPeDA) 4 dan PAPeDA 5 mencakup penguatan pemahaman tentang Perhutanan Sosial, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas usaha masyarakat, pembangunan jejaring dan kemitraan, serta dorongan terhadap dukungan kebijakan di tingkat daerah.
Keberlanjutannya Masih Menyisakan Pekerjaan Rumah
Di balik cerita tentang tepung, mi, madu, kue kering, dan wisata mangrove, masih ada pertanyaan yang belum sepenuhnya selesai.
Salah satunya adalah kebutuhan terhadap kayu. Pengalaman Friwen dan Yenbeser menunjukkan bahwa pengambilan kayu untuk kebutuhan bangunan pariwisata pernah menjadi salah satu penyebab degradasi mangrove.
Oleh karena itu, selama kebutuhan material bangunan masih ada dan alternatifnya belum sepenuhnya tersedia, tekanan terhadap hutan tetap menjadi persoalan yang harus diperhatikan.
Persoalan lainnya adalah pemasaran.
Produk yang sudah berhasil dibuat belum otomatis mudah mencapai konsumen di luar kampung. Kondisi kepulauan membuat distribusi bergantung pada transportasi laut. Infrastruktur logistik menjadi tantangan, sementara keterbatasan listrik juga dapat membatasi kegiatan produksi dan pemasaran digital.
PKPRA dan The Asia Foundation sendiri menempatkan pembangunan infrastruktur logistik, kemitraan dengan sektor swasta, dan digitalisasi pemasaran sebagai kebutuhan untuk memperluas jangkauan produk turunan mangrove.
Jadi, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana membuat produk. Pertanyaannya adalah bagaimana produk tersebut bisa diproduksi secara konsisten, dikirim dengan biaya yang masuk akal, menemukan pasar, dan tetap memberikan keuntungan kepada masyarakat.
Dari Friwen ke Probolinggo, Ketika Pangan Lokal Menjadi Pengetahuan
Ketan kratok (Foto: Cookpad)Cerita tentang pemanfaatan mangrove ini mengingatkan pada satu pangan lokal di Probolinggo, Jawa Timur, yakni kacang kratok.
Kratok (Phaseolus lunatus), salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang telah lama dibudidayakan dan dimanfaatkan masyarakat. Kratok berpotensi menjadi sumber protein nabati, dengan kandungan protein sekitar 18-35 persen.
Hampir seluruh bagian tanamannya juga memiliki potensi pemanfaatan, mulai dari polong muda sebagai sayuran, hijauan untuk pupuk atau penutup tanah, hingga bijinya sebagai pangan dan pakan.
Di Probolinggo, yang paling lekat dengan masyarakat adalah bijinya. Kacang kratok menjadi campuran ketan dan melahirkan makanan yang dikenal sebagai ketan kratok.
Pangan tersebut bukan sekadar menu sarapan. Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo mencatat ketan kratok telah menjadi bagian dari identitas, keseharian, dan kearifan lokal masyarakat, sehingga pada 2025 mendapatkan rekomendasi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI). Rantai ekonominya juga melibatkan petani, pengepul, pembuat, dan penjual.
Cara mengolah kratok juga memperlihatkan pentingnya pengetahuan lokal. Proses pengolahan ketan kratok membutuhkan perendaman sekitar satu hari dan empat kali pencucian. Alasannya karena rasanya bisa pahit, sehingga pengolahannya harus dilakukan dengan benar.
Menariknya, kratok juga tidak hanya sebagai campuran ketan. Di Probolinggo, bahan ini telah dikembangkan menjadi berbagai kudapan, seperti lapis kratok dan olahan lainnya.
Ada benang merah yang menarik antara kratok dan mangrove.
Keduanya menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar sesuatu yang ditemukan di alam. Ia membutuhkan pengetahuan untuk mengenali, mengambil, mengolah, dan menggunakannya dengan aman. Setelah itu, masyarakat masih perlu menemukan cara agar pangan tersebut memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap menjadi bagian dari budaya.
Hutan yang Tetap Berdiri, Pangan yang Tetap Hidup
Cerita Friwen bukan hanya tentang bagaimana masyarakat menemukan produk baru dari mangrove.
Ia adalah cerita tentang upaya mencari keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan hutan, antara pariwisata dan daya dukung lingkungan, antara produk lokal dan keterbatasan pasar, serta antara pengetahuan lama dan kebutuhan baru.
Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen, yang terlihat bukan hanya perubahan cara masyarakat memanfaatkan hutan, tetapi juga perubahan cara melihat hutan itu sendiri.
Mangrove tidak harus selalu menghasilkan sesuatu yang bisa ditebang untuk disebut bernilai. Ia dapat menghasilkan madu, buah, tepung, mi, kue, ruang wisata, tempat ikan tumbuh, sekaligus kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan usaha.
Di Friwen, pekerjaan besar itu justru dibangun dari banyak pekerjaan kecil. Mulai dari menanam bibit, menjaga kawasan, mengolah buah, mengemas produk, menerima pesanan, mendampingi wisatawan, hingga melakukan patroli.
Dan mungkin, di situlah masa depan mangrove berada. Bukan pada seberapa banyak yang dapat diambil dari hutan, melainkan pada seberapa lama masyarakat dapat memperoleh kehidupan dari hutan yang tetap berdiri.
Sumber referensi:





0 komentar